Strategi Forex
Di kategori ini, Anda akan menemukan artikel-artikel yang berkaitan dengan komponen-komponen dasar analisa teknikal dalam menyusun sebuah strategi trading yang cocok dengan gaya trading Anda.

0 12289
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Price artinya harga sedangkan pattern artinya pola. Jadi price pattern bisa diartikan pola yang muncul dari pergerakan harga. Ini mengadopsi dari prinsip dasar analisa teknikal yang berbunyi sejarah selalu berulang. Memang benar, dari masa ke masa pergerakan harga membentuk pola tertentu yang berulang-ulang.

Pada dasarnya price pattern ada dua jenis yaitu reversal pattern dan continuation pattern.

Reversal Pattern

a.  Double Top Dan Double Bottom

Kita akan memulai pembahasan kita dari reversal pattern terlebih dahulu. Yang pertama akan dibahas adalah double top & double bottom.

Anda akan memahami kata “top” sebagai “puncak” dan “bottom”  sebagai “lembah”. Dengan demikian, “double top” artinya adalah “dua puncak” sedangkan “double bottom” artinya adalah “dua lembah”.

Pola double top dan double bottom memang terlihat seperti dua puncak dan dua lembah yang berdampingan. Kedua pola ini cukup mudah dikenali dan juga memiliki akurasi yang cukup tinggi.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas adalah ilustrasi dari pola double top. Pola ini biasanya muncul di ujung uptrend dan memiliki indikasi bearish. Perhatikan bahwa ada enam titik yang ditandai pada gambar tersebut. Anda bisa mengatakan bahwa ada potensi akan terbentuk pola double top jika harga telah bergerak turun dari titik (3). Ingat, baru potensi. Ketika titik (4) tembus, barulah Anda bisa mengatakan bahwa pola double top sudah terbentuk, dengan kata lain: “terkonfirmasi”. Perhatikan pula bahwa konfirmasi double top ini sebenarnya adalah tembusnya garis ”base”.

Jika pola tersebut sudah ter-“konfirmasi”, maka pergerakan harga selanjutnya adalah potensial bearish. Gambar panah menunjukkan potensi jauhnya potensi bearish yang mungkin terjadi. Jarak yang mungkin akan ditempuh pergerakan harga adalah sejauh level puncak ke base. Jadi jika misalnya jarak antara level puncak ke base adalah 100 pips, maka harga akan berpotensi turun 100 pips juga setelah base ditembus.

Namun ada kalanya pullback akan terjadi kembali ke area base sebelum target pergerakan bearish tecapai. Biasanya, pullback berpotensi akan terjadi ketika harga sudah “setengah jalan” menuju target. Jika seandainya target pergerakan adalah 100 pips, maka biasanya pullback akan berpotensi terjadi ketika harga sudah turun sekitar 50 – 60 pips setelah base tembus. Namun jika pullback yang terjadi “kebablasan” hingga tembus lagi ke atas base, maka pola ini dikatakan sudah tidak valid lagi atau fail (gagal).

Belajar Trading Forex

Double bottom secara sederhana adalah kebalikan dari double top. Pola ini biasa muncul di ujung downtrend dan memiliki indikasi bullish. Ketika base tembus dan pola ini terkonfirmasi, maka harga berpotensi bullish, Cara memperkirakan target pergerakan bullish-nya sama persis dengan double top, hanya saja arahnya ke atas. Double bottom dikatakan fail jika pullback yang terjadi berlanjut hingga tembus kembali ke bawah base.

b.  Triple Top Dan Triple Bottom

Kedua pola ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan double top dan double bottom. Hanya saja, triple top memiliki tiga puncak dan triple bottom  memiliki tiga lembah. Cara mengenali konfirmasinya pun sama, yaitu tembusnya garis base. Demikian juga dengan cara memperkirakan target pergerakan setelah pola tersebut terkonfirmasi.

Di bawah ini adalah ilustrasi dari triple top dan triple bottom.

Belajar Trading Forex

Belajar Trading Forex

Dari kedua gambar di atas terlihat bahwa ada kemungkinan pullback akan terjadi ke base dari titik (7), namun perlu diingat bahwa pullback semacam ini (meskipun cukup sering) tidak selalu terjadi. Selalu, jika base tembus lagi pada saat pullback.

Catatan: ketiga titik lembah atau puncak tidak harus berada pada level yang sama persis, namun perbedaannya juga tidak boleh terlalu signifikan. Dengan kata lain, jika dilihat sekilas, ketiga titik lembah tersebut terlihat selevel. Demikian juga pada pola double top dan double bottom, level puncak dan lembahnya tidak harus sama persis.

c.  Head and Shoulders & Inverse Head and Shoulders

Pola ini juga merupakan pola reversal yang cukup populer karena akurasinya yang cukup tinggi. Dinamakan head and shoulders karena memang bentuk polanya seolah-olah membentuk kepala dan bahu. Terkadang pola ini sering di-“salahpersepsikan” sebagai triple top atau triple bottom, namun ada faktor kunci yang membedakan pola ini dengan triple top atau triple bottom.

Mari kita perhatikan pola dasar head and shoulders di bawah ini:

Belajar Trading Forex

Kalau Anda perhatikan dengan seksama, terlihat bahwa titik (3) pola ini lebih tinggi daripada titik (1) dan (5). Pada pola triple top, ketiga titik ini cenderung selevel. Titik puncak yang lebih tinggi itulah yang menjadi head-nya, sementara titik (1) dan (5) adalah titik shoulders-nya.

Pola head and shoulders ini menjadi pola reversal bearish jika muncul di ujung sebuah uptrend. Konfirmasinua adalah ketika garis neckline sudah tembus (titik ke-6). Jika pola ini sudah terkonfirmasi, maka harga cenderung akan bergerak turun sejauh jarak dari puncak head ke neckline. Pada gambar di atas, direpresentasikan dengan panah merah.

Pullback juga sering (ingat: tidak selalu) terjadi kembali ke area neckline sebelum harga kembali bergerak turun untuk mencapai target pergerakan harga. Pola ini dikatakan fail jika pullback terjadi hingga tembus ke atas neckline.

Kebalikan dari pola head and shoulders adalah pola inverse head and shoulders. Pola ini merupakan pola reversal bullish yang biasanya muncul di ujung sebuah downtrend. Konfirmasinya sama persis dengan head and shoulders. Jika pola ini sudah terkonfirmasi, maka harga cenderung akan bergerak naik sejauh jarak dari puncak head ke neckline.

Gambar di bawah ini akan membantu untuk menjelaskan pola inverse head and shoulders:

Belajar Trading Forex

Continuation Pattern

a.  Triangle

Sekarang, kita akan membahas contoh-contoh continuation pattern. Kita mulai dari triangle.

Dari namanya, Anda mungkin sudah bisa mengira-ngira bentuk pola ini. Ya, pola ini memang memiliki bentuk yang mirip dengan segitiga. Pola ini terjadi karena pasar bergerak sideways dan pertarungan antara bull dan bear seimbang, sehingga akhirnya grafik pergerakan harga mengerucut dan membentuk mirip segitiga.

Ada tiga jenis triangle:

  • Symmetrical triangle
  • Ascending triangle
  • Descending triangle

Kita akan bahas satu per satu mulai dari Symmetrical triangle.

Meskipun artinya adalah segitiga simetris, namun pada kenyataannya bentuknya tidaklah selalu simetris. Symmetrical triangle adalah pola triangle yang memiliki garis support (lower line) dan resistance (upper line) yang konvergen (kemiringannya berlawanan menuju satu titik). Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat gambar di bawah ini:

Belajar Trading Forex

Dari gambar di atas Anda bisa melihat bahwa pola ini terbentuk ketika pasar sedang bergerak sideways setelah mengalami “rally” bullish. Istilahnya adalah “berkonsolidasi”.  Contoh di atas memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang terbentuk pada saat uptrend.

Sebuah symmetrical triangle paling tidak harus memiliki empat reversal point (titik pembalikan) yang terdiri dari dua titik puncak dan dua titik lembah. Gambar di atas memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang memiliki enam reversal point, yaitu titik 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Konfirmasi dari pola ini adalah tembusnya upper line (garis bagian atas). Ketika pola ini sudah terkonfirmasi maka pergerakan selanjutnya adalah naik. Cara memperkirakan targetnya adalah dengan berpatokan pada baseline dari symmetrical triangle tersebut, yaitu jarak dari A ke titik 1. Jadi, kalau misalnya baseline-nya sepanjang 100 pips, maka pergerakan selanjutnya pun diperkirakan akan sejauh 100 pips.

Cara lain yang bisa dipergunakan untuk memperkirakan target pergerakan adalah dengan menarik garis yang sejajar dengan lower line, di mana garis tersebut dimulai dari titik 1.

Sebagaimana pola yang lain, pullback kemungkinan bisa saja akan terjadi. Pada gambar di atas terlihat pullback terjadi dari titik 7 kembali ke titik 8 yang berada di area upper line.

Jika Anda perhatikan lagi, garis upper line dan lower line bertemu di satu titik. Titik tersebut kita sebut sebagai apex. Anda perlu memperhatikan apex tersebut karena tembusnya upper line yang merupakan konfirmasi dari pola symmetrical triangle tidak boleh terlalu dekat dengan apex.

Sebagai aturan umum, harga harus sudah menembus upper line pada jarak kira-kira 2/3 (dua-per-tiga) hingga ¾ (tiga-per-empat) dari panjang polanya. “Panjang pola” yang dimaksud adalah jarak dari baseline ke apex. Jadi, kalau penembusan terjadi kurang dari 2/3 atau lebih dari ¾ panjang pola, kemungkinan besar tidak valid.

Selain terjadi pada saat uptrend, symmetrical triangle juga bisa terjadi pada saat downtrend. Sebenarnya sama saja, hanya saja posisinya berada di bawah. Kalau pada contoh di atas Anda menantikan tembusnya upper line sebagai konfirmasi dan harga cenderung akan bergerak naik, maka jika polanya terjadi pada saat downtrend Anda akan menantikan tembusnya lower line dan harga cenderung akan bergerak turun. Hanya itu perbedaannya.

Belajar Trading Forex

Ascending triangle

Pada dasarnya, ascending triangle tidak jauh berbeda dengan symmetrical triangle dari sisi menganalisanya. Perbedaan kedua pola tersebut hanya pada bentuknya.

Ascending triangle merupakan continuation pattern yang biasanya muncul pada saat uptrend. Kemunculan pola ini merupakan pertanda bahwa tekanan bullish semakin melebihi tekanan bearish secara bertahap.

Belajar Trading Forex

Seperti halnya symmetrical triangle, pola ascending triangle juga minimal harus memiliki empat reversal point. Gambar di atas menunjukkan ascending triangle yang memiliki enam reversal point. Konfirmasi dari pola tersebut adalah tembusnya upper line yang kemudian berpotensi untuk diikuti oleh pergerakan bullish. Cara memperkirakan target pergerakan harga juga mirip dengan symmetrical triangle, hanya saja baseline-nya bukan berpatokan pada titik 1, melainkan berpatokan pada titik 2.

Meskipun pada dasarnya ascending triangle adalah continuation pattern, namun ia juga bisa menjadi reversal pattern jika terjadi pada saat downtrend. Pada keadaan seperti itu, tembusnya upper line merupakan konfirmasi bahwa ascending triangle merupakan pola reversal. Perhatikan gambar berikut untuk mempermudah pemahaman Anda:

Belajar Trading Forex

Pola seperti ini populer dengan nama ascending triangle bottom.

Descending triangle

Kita sudah membicarakan symmetrical triangle dan ascending triangle. Sepertinya Anda sudah tidak akan kesulitan lagi untuk memahami jenis triangle yang ke-3, yaitu descending triangle.

Sederhana saja, descending triangle adalah kebalikan dari ascending triangle. Sederhana kan? Dengan demikian, kalau ascending triangle adalah pola bullish, maka descending triangle adalah pola bearish. Descending triangle merupakan continuation pattern yang muncul pada saat downtrend.

Belajar Trading Forex

Bagaimana, sederhana kan?

Descending triangle juga bisa berubah menjadi pola reversal jika muncul pada saat uptrend. Namanya mengalami modifikasi menjadi descending triangle top. Jadi ceritanya akan seperti pada gambar di bawah ini:

Belajar Trading Forex

b.  Flag dan Pennant

Kita akan membicarakan flag terlebih dahulu. Flag sebenarnya adalah channel kecil yang muncul setelah rally. Arah channelnya berlawanan dengan arah rally-nya. Jadi, jika ada down channel kecil yang muncul setelah rally bullish, itu disebut sebagai bullish flag. Sebaliknya, up channel kecil yang muncul setelah rally bearish disebut dengan bearish flag.

Mari kita perhatikan gambar berikut:

Belajar Trading Forex

Ya, begitulah bentuk dasar flag. Sekarang Anda sudah tahu mengapa pola ini disebut sebagai flag: karena bentuknya mirip dengan bendera (flag) dan tiangnya (flagpole). Flag direpresentasikan oleh channel kecil sedangkan flagpole-nya adalah titik a ke b yang terlihat pada gambar di atas.

Pada bearish flag, tembusnya lower line dari up channel adalah konfirmasinya. Harga cenderung akan bergerak turun jika bearish flag sudah terkonfirmasi.

Sebaliknya, pada bullish flag, konfirmasinya adalah tembusnya upper line dari down channel. Proyeksi pergerakan harga selanjutnya adalah bullish jika bullish flag telah terkonfirmasi.

Cara menentukan target pergerakan harga juga sederhana. Anda cukup mengukur panjang flagpole-nya saja. Sepanjang flagpole itulah jarak yang termungkinkan untuk ditempuh oleh pergerakan harga. Misalnya, jika panjang flagpole-nya adalah 100 pips, maka harga cenderung akan bergerak sejauh 100 pips setelah pola flag-nya terkonfirmasi.

Tetapi pada prakteknya, kebanyakan trader berhenti (menutup posisinya) setelah harga bergerak “setengah jalan” sebelum mencapai target. Misalnya jika target adalah sejauh 100 pips, maka mereka cenderung untuk berhenti di 50 – 60 pips.

Syarat umum dari flag adalah sebagai berikut:

  1. Terjadi rally sebelum channel kecil terbentuk.
  2. Channel yang terjadi arahnya harus berlawanan dengan arah rally sebelumnya.
  3. Panjang channel (flag) paling tidak sepertiga panjang flagpole.

OK, kita akan membahas pennant sekarang. Pennant pada dasarnya adalah pengembangan dari pola symmetrical triangle. Hanya saja, pennant didahului oleh rally yang panjang dan cukup curam. Bisa dikatakan bahwa pennant merupakan hasil kawin silang antara symmetrical triangle dengan flag.

Oleh karena pennant mirip dengan symmetrical triangle dan flag, maka dengan sendirinya aturan-aturan yang berlaku pada symmetrical triangle dan flag juga berlaku pada pennant.

Di bawah ini adalah ilustrasi yang menggambarkan bentuk pennant.

Belajar Trading Forex

c.  Wedge Formation dan Rectangle Formation

Wedge formation

Wedge hampir mirip dengan pennant. Hanya saja, kemiringan kedua garis segitiga-nya searah, dalam arti keduanya mengarah ke atas atau ke bawah. Derajat kemiringannya memang berbeda, namun searah. Gambar di bawah ini akan memperjelas definisi wedge.

Belajar Trading Forex

Kita bisa mengenali wedge dengan memperhatikan kemiringannya yang mengarah ke atas atau ke bawah. Sebagai aturan umum; hampir mirip dengan flag; kemiringan wedge sebagai continuation pattern arahnya berlawanan dengan tren yang sedang berlangsung. Dengan demikian, falling wedge adalah pola bullish sedangkan rising wedge adalah pola bearish.

Catatan:

Meskipun pada dasarnya wedge adalah pola continuation, namun wedge bisa juga berfungsi sebagai pola reversal, akan tetapi kejadian ini jarang terjadi. Falling wedge bisa menjadi pola reversal bullish jika terjadi di ujung sebuah dowtrend. Sebaliknya, jika rising wedge muncul pada saat uptrend, maka ia bisa jadi akan menjadi pola reversal bearish.

Rectangle formation

Rectangle formation memiliki banyak nama, namun pola ini sangat mudah dikenali. Pola ini merepresentasikan jeda yang terjadi di mana harga bergerak sideways di antara dua garis horizontal yang sejajar.

Belajar Trading Forex

Rectangle terkadang disebut sebagai trading range atau area kongesti. Apa pun namanya, pola ini merepresentasikan periode konsolidasi pada sebuah tren, dan biasanya dilanjutkan dengan pergerakan yang searag dengan tren sebelumnya.

Sebuah rectangle minimal harus memiliki empat reversal point. Pada contoh gambar di atas, Anda bisa melihat contoh rectangle yang memiliki enam reversal point. Konfirmasi bullish rectangle adalah pecahnya garis resistance atau upper line,  sedangkah konfirmasi bearish rectangle adalah tembusnya garis support atau lower line.

d.  Continuation Head and Shoulders Pattern

Sebelumnya, kita telah membahas mengenai pola head and shoulders sebagai pola reversal. Pada pola continuation head and shoulders, pola yang terbentuk benar-benar sama persis dengan pola head and shoulders. Yang membedakan adalah poin-poin berikut ini:

  1. Pola head and shoulders muncul pada saat downtrend. Tembusnya neckline merupakan konfirmasi pola continuation head and shoulders.
  2. Pola inverse head and shoulders muncul pada saat uptrend. Tembusnya neckline merupakan konfirmasi pola continuation inverse head and shoulders.

Belajar Trading Forex

Jadi tidak perlu bingung. Yang perlu Anda ingat hanyalah bahwa pola inverse head and shoulders memiliki implikasi bullish, sedangkan pola head and shoulders memiliki implikasi bearish, terlepas dari pada saat tren apa pola tersebut muncul. Mudah kan?

e.  Konsep Supply dan Demand

Supply berarti ketersediaan atau penawaran sedangkan demand berarti permintaan.

Dengan bahasa sederhana Supply & demand artinya adalah penawaran dan permintaan, di mana yang menawarkan adalah penjual, sedangkan yang melakukan permintaan adalah pembeli.

Harga selalu terbentuk berdasarkan hukum penawaran dan permintaan ini. Jika penawaran (supply) akan suatu barang tinggi, namun permintaan (demand) atas barang itu rendah, maka harga akan jatuh. Jika permintaan sedang menjulang tinggi tapi penawarannya terbatas, harga otomatis melonjak naik.

Singkatnya, kalau banyak yang jual tetapi sedikit yang mau beli, artinya barang itu tidak laku. Akibatnya harga barang itu akan turun. Sebaliknya kalau banyak yang mau membeli tapi persediaannya terbatas, barang itu akan laku keras, otomatis harganya akan meroket naik.

 

0 6809
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Anda telah mengenal candlestick chart sebagai salah satu jenis chart yang populer di kalangan para trader. Konon, chart jenis ini pertama kali digunakan di Jepang sekitar abad ke-17 untuk memperhitungkan pergerakan harga beras. Munehisa Homma adalah seorang pedagang beras pada masa itu yang dianggap sebagai pelopor metode tersebut. Menurut Steve Nison, metode tersebut kemungkinan dimulai setelah tahun 1850-an. Steve Nison sendiri adalah salah seorang yang diketahui mempopulerkan metode analisis menggunakan pola candlestick (candlestick pattern) ke “dunia barat” melalui bukunya “Japanese Candlestick Charting Techniques”.

Teknik analisis dengan menggunakan candlestick pattern sebenarnya “mengubah” candlestick menjadi semacam “indikator”. Dengan mengenali pola-pola tertentu, Anda bisa memperkirakan kemana harga akan bergerak selanjutnya.

Perlu diingat bahwa pola candlestick biasanya hanya diikuti oleh koreksi jangka pendek saja. Pola-pola tersebut berguna bagi para trader yang ingin memanfaatkan peluang koreksi. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa pola candlestick bisa diikuti oleh reversal (pembalikan arah) untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Pada chapter ini, Anda akan mempelajari beberapa pola candlestick yang mudah-mudahan nantinya akan bisa Anda manfaatkan dalam trading forex.

SINGLE CANDLESTICK PATTERN (POLA DASAR)

Kita mulai dari pola dasar candlestick dulu. Pola-pola dasar yang akan kita bahas adalah marubozu, long candle, spinning tops, doji, hammer/hanging man dan inverted hammer/shooting star.

a.      Marubozu

Marubozu adalah candlestick yang tidak memiliki shadow.  Kalaupun ada, shadownya sangat-sangat pendek sehingga sepintas lalu tidak terlihat. Sebaliknya, body marubozu ini relatif panjang. Kemunculan marubozu menandakan bahwa tekanan bearish atau bullish sangat besar pada periode waktu tersebut.

Ada dua jenis marubozu, yaitu bullish marubozu dan bearish marubozu. Bullish marubozu adalah marubozu yang berupa candlestick bullish panjang dan tidak memiliki shadow. Sebaliknya, bearish marubozu adalah candlestick bearish panjang yang tidak memiliki shadow.

Sekedar mengingatkan, pada umumnya bullish candlestick direpresentasikan dengan warna putih (kosong) sedangan bearish candlestick direpresentasikan dengan warna hitam. Oleh karena itu bullish marubozu juga sering disebut sebagai white marubozu, sedangkan bearish marubozu disebut sebagai black marubozu. 

Belajar Trading ForexTadi sudah dikatakan bahwa kemunculan marubozu berarti menandakan bahwa tekanan bearish atau bullish yang kuat. Dengan demikian, kemunculan bullish marubozu menjadi pertanda bahwa pada saat itu tekanan bullish sangat kuat. Sebaliknya, kemunculan bearish marubozu menandakan bahwa pada saat itu tekanan bearish sangat kuat. Oleh karena itu Anda perlu berhati-hati jika pola ini muncul.

b.      Long Candle

Long candle adalah candlestick yang relatif panjang. Patokan utamanya adalah panjang body-nya. Ada dua jenis long candle: long bullish candle dan tentu saja long bearish candle. Bedanya dengan marubozu, long candle masih memiliki shadow yang terlihat dengan jelas.

Belajar Trading Forex

c.      Spinning Tops

Spinning tops adalah candlestick yang memiliki upper shadow dan lower shadow yang panjang namun memiliki body yang kecil. Warna body dari spinning tops ini tidak terlalu penting, karena kemunculan pola seperti ini mencerminkan “keragu-raguan pasar”, apakah mau bullish atau bearish.

Belajar Trading Forex

Body yang kecil itu menggambarkan bahwa sebenarnya kekuatan bullish dan bearish sama besarnya. Itulah yang dimaksud dengan “keragu-raguan pasar”.

Bila spinning tops ini muncul di ujung sebuah uptrend, maka ada kemungkinan pasar akan berbalik arah menjadi downtrend. Begitu pula jika spinning tops ini muncul di ujung downtrend, maka ada kemungkinan akan terjadi pembalikan arah menjadi uptrend.

Namun demikian, spinning tops membutuhkan konfirmasi dari candlestick berikutnya agar Anda bisa memperkirakan arah pergerakan selanjutnya.

Pada dasarnya spinning tops adalah pola netral. Meskipun spinning tops muncul di ujung uptrend, tidak serta-merta pembalikan arah akan terjadi. Peluang balik arah akan semakin besar jika spinning tops yang muncul di ujung uptrend diikuti oleh candlestick bearish yang cukup panjang. Demikian pula halnya dengan spinning tops yang muncul di ujung downtrend, membutuhkan bullish candlestick sebagai konfirmasi.

d.      Doji

Doji juga merupakan pola netral. Dibutuhkan konfirmasi candlestick berikutnya agar Anda bisa memperkirakan arah pasar selanjutnya. Bentuk doji ini mirip dengan spinning tops, hanya saja ia tidak memiliki body karena harga open sama dengan harga close-nya. Atau, body-nya sangatlah kecil sehingga sepintas sulit terlihat dan hanya terlihat sebagai garis yang tipis.

Sama seperti spinning tops, doji juga menggambarkan pertarungan yang seimbang antara bull dengan bear.

Ada empat jenis doji, yaitu long-legged doji, dragonfly doji, gravestone doji dan four price doji.

Belajar Trading Forex

Long-legged doji mudah dikenali dari shadow-nya yang panjang. Yang jelas, kedua shadow dapat dilihat dengan jelas dan memiliki panjang yang hampir sama, atau paling tidak perbedaan panjangnya tidak terlalu jauh.

Dragonfly doji memiliki harga open, close dan high yang sama atau hampir sama. Bentuknya seperti huruf “T”. Namun ada kalanya letak “body” agak sedikit ke bawah sehingga dragonfly doji ini memiliki bentuk seperti salib. Istilah dragonfly ini diambil karena doji ini memiliki bentuk mirip seperti capung.

Gravestone doji memiliki harga open, close dan low yang sama atau hampir sama. Doji ini diberi nama gravestone karena bentuknya yang mirip batu nisan.  Ada kalanya juga posisi “body” agak sedikit ke atas sehingga bentuknya menyerupai salib terbalik.

Four price doji merupakan doji yang memiliki harga open, close, high dan low yang sama.

Kemunculan doji biasanya menunjukkan bahwa tekanan bullish atau bearish mulai berkurang. Jadi jika doji muncul pada saat uptrend, itu merupakan pertanda bahwa tekanan bullish menurun, sebaliknya jika doji muncul pada saat downtrend artinya tekanan bearish mulai berkurang. Namun sekali lagi, diperlukan konfirmasi dari candlestick berikutnya untuk action. Ingat selalu bahwa doji adalah pola netral.

e.       Hammer & Hanging Man

Hammer dan hanging man sebenarnya adalah “saudara kembar”. Keduanya memiliki bentuk yang sama: sama-sama memiliki body yang mungil dan lower shadow yang panjang. Upper shadow nyaris tidak terlihat, bahkan hammer/hanging man yang sempurna sama sekali tidak memiliki upper shadow.

Belajar Trading Forex Hammer/hanging man yang bagus memiliki lower shadow yang panjangnya minimal 1,5 (satu setengah) kali panjang body-nya. Beberapa referensi yang lain menyebutkan lower shadow paling tidak dua hingga tiga kali lebih panjang daripada body-nya.

Yang membedakan hammer dan hanging man adalah lokasinya. Hammer selalu berlokasi di lembah, sementara hanging man selalu berada di puncak.

Belajar Trading Forex

Kemunculan hammer merupakan isyarat atau sinyal bullish, sedangkan kemunculan hanging man merupakan sinyal bearish. Namun munculnya hammer atau hanging man tidak lantas merupakan sinyal yang kuat. Hammer akan menjadi sinyal bullish yang kuat jika didukung oleh kemunculan bullish candle setelahnya. Hanging man pun akan menjadi sinyal bearish yang lebih kuat jika didukung oleh kemunculan bearish candle setelahnya.

Dalam prakteknya, pola candlestick seringkali digabungkan dengan indikator dan tool analisis yang lain, seperti stochastic atau Fibonacci retracement.

f.       Inverted Hammer & Shooting Star

Inverted hammer dan shooting star juga adalah saudara kembar. Bentuk mereka mirip dengan hammer dan hanging man yang terbalik. Keduanya memiliki body yang juga imut dan upper shadow yang biasanya memiliki panjang sekitar 1,5 (satu setengah) hingga tiga kali panjang body-nya. Lower shadow nyaris tidak terlihat, bahkan bentuk yang sempurna tidak memiliki lower shadow sama sekali.

Belajar Trading Forex

Disebut inverted hammer jika letaknya berada di lembah, sedangkan jika terlihat di puncak maka disebut sebagai shooting star.

Belajar Trading Forex

Inverted hammer merupakan sinyal bullish dan membutuhkan konfirmasi candlestick bullish yang muncul setelahnya. Sedangkan shooting star merupakan sinyal bearish yang juga membutuhkan konfirmasi candlestick bearish yang muncul setelahnya.

DUAL CANDLESTICK PATTERN

Setelah Anda mempelajari pola dasar yang merupakan single candlestick pattern, sekarang Anda akan naik setingkat untuk mempelajari dual candlestick pattern. Pola yang akan Anda pelajari adalah engulfing, dark cloud cover, piercing line dan tweezer.

a.      Engulfing pattern

Ada dua jenis engulfing pattern, yaitu bullish engulfing dan bearish engulfing. Berdasarkan namanya Anda tentu sudah bisa menebak implikasi apa yang ditimbulkan oleh kedua pola tersebut.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas memperlihatkan bullish engulfing dan bearish engulfing. Kalau Anda lihat, suatu pola engulfing bisa dikenali ketika ada candlestick yang panjangnya melebihi candlestick sebelumnya. Tapi tidak cukup hanya “lebih panjang”. Candlestick yang lebih panjang tersebut harus terlihat seolah-olah “meliputi” candlestick sebelumnya.

Pola bullish engulfing merupakan pola yang mengindikasikan adanya potensi bullish. Pada gambar di atas terlihat bahwa bullish candlestick yang muncul lebih panjang daripada bearish candlestick sebelumnya. Harga low dari bullish candlestick tersebut tidak perlu lebih rendah daripada harga low bearish candlestick sebelumnya, namun harga high-nya harus lebih tinggi daripada harga high candlestick sebelumnya. Harga close dari bullish candlestick tersebut juga sebaiknya lebih tinggi daripada harga high candlestick sebelumnya, namun hal ini bukan merupakan suatu keharusan.

Bearish engulfing adalah kebalikan dari bullish engulfing. Pola ini mengindikasikan adanya potensi bearish. Pola ini ditandai dengan kemunculan bearish candlestick yang lebih panjang daripada bullish candlestick sebelumnya.

Agar lebih mudah, Anda hafalkan saja dengan menggunakan tanda lebih besar (>) dan lebih kecil (<) seperti ini:

Bullish engulfing:

  • Panjang Bullish candlestick > panjang bearish candlestick sebelumnya
  • Harga high bullish candlestick > harga high bearish candlestick sebelumnya
  • Harga close bullish candlestick > harga high bearish candlestick sebelumnya (bukan keharusan)

Bearish engulfing:

  • Panjang bearish candlestick > panjang bullish candlestick sebelumnya
  • Harga low bearish candlestick < harga low bullish candlestick sebelumnya
  • Harga close bearish candlestick < harga low bullish candlestick sebelumnya (bukan keharusan)

b.      Harami

Pola harami ini bisa dikatakan kebalikan dari pola engulfing. Bedanya, pada harami candlestick yang muncul lebih kecil daripada candlestick sebelumnya.

Belajar Trading Forex

Perhatikan bahwa bullish harami ditandai dengan kemunculan bullish candlestick yang lebih kecil daripada candlestick sebelumnya yang merupakan candlestick bearish. Sedangkan bearish harami ditandai dengan kemunculan bearish candlestick yang lebih kecil daripada candlestick sebelumnya.

Bullish harami merupakan pola bullish, sedangkan bearish harami merupakan pola bearish.

c.       Dark Cloud Cover & Piercing Line

Dark cloud cover dan piercing line juga merupakan pola double candlestick yang cukup populer. Dark cloud cover merupakan pola bearish, sebaliknya piercing line adalah pola bullish.

Belajar Trading Forex

Piercing line terjadi di lembah dan merupakan pola bullish seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pola ini terdiri dari sebuah candlestik bullish dan sebuah candlestick bearish. Suatu pola bisa disebut sebagai piercing line jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Harga low candlestick bullish lebih rendah daripada harga low candlestick bearish sebelumnya.
  • Harga close candlestick bullish lebih tinggi daripada harga close candlestick bearish sebelumnya.
  • Panjang body candlestick bullish minimal setengahnya panjang body candlestick bearish sebelumnya.

Dark cloud cover terjadi di puncak dan merupakan pola bearish. Persyaratan pola ini adalah sebagai berikut:

  • Harga high candlestick bearish lebih tinggi daripada harga high candlestick bullish sebelumnya.
  • Harga close candlestick bearish lebih rendah daripada harga close candlestick bullish sebelumnya.
  • Panjang body candlestick bearish minimal setengahnya panjang body candlestick bullish sebelumnya.

d.      Tweezer

Ada dua macam pola tweezer, yaitu tweezer top dan tweezer bottom. Pola ini merupakan pola yang cukup jarang muncul. Kata tweezer bisa berarti “penjepit” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Konon, nama ini diberikan karena bentuk pola ini mirip dengan penjepit.

Belajar Trading Forex

Mudah saja mengenali pola ini. Tweezer bottom merupakan bentuk hammer yang berdampingan, sedangkan tweezer top merupakan inverted hammer (shooting star, karena berada di atas) yang berdampingan.

TRIPLE CANDLESTICK PATTERN.

Pola candlestick yang juga populer adalah pola candlestick yang terdiri atas tiga buah candlestick. Kita akan membahas pola triple candlestick yang populer saja.

a.      Morning star & evening star

Kita mulai dari pola triple candlestick yang paling populer, yaitu morning star dan evening star. Pola-pola ini populer karena kemunculannya biasanya diikuti oleh koreksi yang lebih panjang daripada pola-pola yang lain.

Belajar Trading Forex

Morning star merupakan indikasi bullish, sedangkan evening star memiliki indikasi bearish.

Morning star dapat Anda kenali memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Candlestick pertama merupakan candlestick bearish, yang mana adalah bagian dari sebuah downtrend.
  2. Candlestick kedua adalah candlestick yang memiliki body yang lebih kecil, bisa merupakan candlestick bullish ataupun bearish. Hal ini menunjukkan bahwa mulai ada “keragu-raguan” di pasar.
  3. Candlestick ketiga adalah candlestick bullish yang lebih panjang daripada candlestick kedua. Panjangnya tidak perlu sama dengan candlestick pertama, namun posisi harga close-nya harus melebihi setengah dari body candlestick pertama. Inilah konfirmasi terbentuknya pola morning star.

Nah, kalau evening star merupakan kebalikan dari morning star tadi:

  1. Candlestick pertama merupakan candlestick bullish, yang mana adalah bagian dari sebuah uptrend.
  2. Candlestick kedua adalah candlestick yang memiliki body yang lebih kecil, bullish ataupun bearish tidak penting.
  3. Candlestick ketiga adalah candlestick bearish yang lebih panjang daripada candlestick kedua. Panjangnya tidak perlu sama dengan candlestick pertama, namun posisi harga close-nya harus melebihi setengah dari body candlestick pertama. Inilah konfirmasi terbentuknya pola evening star.

Ada kalanya candlestick yang ke-2 adalah sebuah doji. Nama polanya pun akan dimodifikasi menjadi morning doji star atau evening doji star.

b.      Three white soldiers & three black crows

Belajar Trading Forex

Pola three white soldiers adalah tiga buah candlestick bullish yang muncul berurutan pada saat downtrend, yang merupakan sinyal bullish. Pola ini merupakan salah satu pola yang dianggap sinyal bullish yang kuat, terutama jika muncul pada saat downtrend memasuki fase konsolidasi. Fase konsolidasi dalam sebuah tren sendiri adalah ketika harga cenderung bergerak sideways.

Candlestick yang pertama dalam pola ini tentunya adalah sebuah candlestick bullish. Candlestick ke-2 haruslah juga sebuah candlestick bullish yang body-nya lebih panjang daripada candlestick pertama. Selain itu, jarak antara harga close dan high candlestick yang kedua ini juga tidak boleh terlalu jauh. Upper shadow-nya harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali.

Pola ini akan lengkap dengan kemunculan candlestick ketiga yang panjangnya paling tidak sama dengan candlestick kedua atau lebih panjang. Shadow-nya juga harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Akan semakin baik jika candlestick yang ketiga adalah sebuah white marubozu.

“Lawan” dari three white soldiers adalah three black crows. Pola tersebut adalah pola bearish, yang merupakan kemunculan tiga candlestick bearish secara berurutan pada saat uptrend.

Candlestick yang pertama dalam pola ini adalah sebuah candlestick bearish. Candlestick kedua haruslah juga sebuah candlestick bearish yang body-nya lebih panjang daripada candlestick pertama. Lower shadow-nya harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali.

Konfirmasi pola ini adalah kemunculan candlestick ketiga yang panjangnya paling tidak sama dengan candlestick kedua atau lebih panjang. Shadow-nya juga harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Jika candlestick yang ketiga adalah sebuah black marubozu, maka pola ini akan semakin bagus.

Nah, cukup di sini dulu pembahasan kita mengenai pola candlestick. Sebenarnya masih banyak pola candlestick yang tidak dibahas di sini, karena kita hanya membahas pola yang sering muncul dan populer saja.

0 3374
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Pada akhir tahun 1970-an, ada seorang dokter di Amerika Serikat yang juga aktif di perdagangan saham mengembangkan sebuah indikator teknikal yang bernama Moving Average Convergence Divergence (MACD). Ia adalah Prof. Gerald Appel.

MACD merupakan salah satu indikator teknikal yang bisa membantu Anda untuk mengidentifikasi perubahan arah. Selain itu, MACD bisa memberikan informasi apakah tren yang berlangsung cukup kuat atau tidak.

Dari namanya mungkin Anda sudah bisa menebak bahwa dasar yang digunakan MACD adalah Moving Average. Benar sekali. Tapi kita tidak akan membahas dasar teori dan perhitungannya. Dalam artikel ini kita akan membahas cara membaca MACD untuk menemukan peluang, karena itulah tujuan kita mempelajari analisis teknikal: mencari uang dari pasar finansial. Ya kan?

Belajar Trading Forex

MACD standar yang merupakan bawaan dari platform  Metatrader memiliki komponen-komponen sebagai berikut:

1.     Zero Line

2.     Histogram, yang berupa garis-garis vertikal

3.     MACD Signal Line, yang biasanya ditampilkan sebagai garis merah putus-putus.

Histogram merupakan indikator apakah tren yang terjadi cukup kuat atau tidak. Jika histogram semakin panjang, itu artinya momentum bertambah besar (tren turun bertambah kuat). Tetapi jika histogram semakin pendek, itu merupakan indikasi bahwa momentumnya semakin berkurang. Hal tersebut biasanya akan diikuti oleh koreksi.

MACD juga bisa dimanfaatkan untuk mencari entry signal. Caranya adalah dengan memperhatikan histogram dan MACD signal line. Ketika MACD signal line “melepaskan diri” dari histogram, itulah yang menjadi sinyalnya.

Sinyal buy adalah ketika MACD signal line lepas dari histogram di bawah zero line, sedangkan sinyal sell adalah ketika MACD signal line lepas dari histogram di atas zero line.

Belajar Trading Forex

MACD ini memiliki kelemahan. Pengaturan standar dari MACD seringkali memunculkan fake signal. Untuk itu Anda harus lebih berhati-hati menggunakan MACD ini dan disarankan untuk dipakai di time frame yang agak panjang, misalnya grafik 4 jam-an atau grafik harian.

Menemukan divergence

Bagaimana cara menemukan divergence dengan menggunakan MACD?

Pada dasarnya, caranya sama dengan mengenali divergence pada indikator lain seperti stochastic, CCI, atau RSI.

Pada MACD, yang Anda perhatikan adalah puncak-puncak dan lembah-lembah histogram.

Bullish divergence adalah ketika lembah grafik makin rendah namun lembah histogram makin tinggi. Pada saat tersebut histogram berada di bawah zero level. Konfirmasi dari bullish divergence adalah ketika histogram naik ke atas zero level. Gambar di bawah ini adalah salah satu contoh kejadian bullish divergence pada MACD..

Belajar Trading Forex

Bearish divergence adalah ketika puncak grafik makin tinggi namun puncak histogram makin rendah. Pada saat tersebut histogram berada di atas zero level. Konfirmasi dari bearish divergence adalah ketika histogram turun ke bawah zero level. Di bawah ini adalah contoh bearish divergence yang terlihat pada MACD.

Belajar Trading Forex

0 3349
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Relative Strength Index (selanjutnya akan kita sebut sebagai RSI), memiliki kemiripan dengan stochastic dalam hal membantu untuk mengenali kondisi overbought dan oversold. Indikator ini dikembangkan oleh J. Welles Wilder, Jr dan diperkenalkan pada tahun 1978. Wilder junior sendiri adalah seorang insinyur mesin yang lebih dikenal sebagai seorang analis teknikal yang melahirkan beberapa indikator teknikal yang terkenal selain RSI.

RSI memiliki nilai dari 0 (nol) hingga 100 (seratus). RSI bisa membantu Anda untuk memperkirakan keadaan overbought dan oversold. Pasar dianggap oversold jika RSI berada di bawah 30 dan dianggap overbought bila RSI berada di atas 70.

Belajar Trading Forex

Pada umumnya RSI digunakan untuk mencari sinyal buy dan sell, seperti halnya indikator yang lain. Sinyal sell dicari ketika RSI sudah memasuki area overbought, sebaliknya sinyal buy dicari ketika RSI sudah memasuki area oversold.

Konfirmasi sinyal sell adalah ketika RSI turun dari area overbought dan berada di bawah 70, sedangkan konfirmasi buy adalah ketika RSI naik dari area oversold dan berada di atas 30.

Belajar Trading Forex

RSI tidak seagresif stochastic. RSI termasuk indikator yang jarang memunculkan sinyal buy atau sell. Oleh sebab itu RSI mungkin tidak cocok bagi trader yang agresif, yaitu trader yang ingin melakukan transaksi sebanyak dan sesering mungkin.

Namun karena RSI jarang memunculkan sinyal, biasanya kemunculan sinyal diikuti oleh pergerakan yang cukup panjang. Oleh karena itulah RSI cocok bagi trader yang cenderung kalem, yang sangat sabar menanti sinyal RSI untuk melakukan transaksi.

Ada beberapa tips yang bisa Anda gunakan dalam menggunakan RSI untuk mengantisipasi munculnya fake signal. Kita sebut saja sebagai “jurus enam langkah RSI”.

Aturan untuk buy:

1.     RSI harus berada di area oversold (di bawah 30).

2.     Tunggu sampai RSI lepas dari area oversold (naik ke atas 30).

3.     Sebagai penguat, pastikan ada candlestick bullish ketika RSI lepas dari area oversold.

4.     Tunggu sampai candlestick tersebut selesai (close).

5.     Entry (buy) pada pembukaan candlestick berikutnya.

6.     Tempatkan stop loss sedikit di bawah swing low yang terakhir.

Ilustrasi langkah-langkah di atas adalah sebagai berikut:

Langkah 1 – 3:

Belajar Trading Forex

Langkah 4 – 6:

Belajar Trading Forex

Dan kejadian selanjutnya ternyata:

Belajar Trading Forex

Tips : jangan tempatkan stop loss persis di swing low terakhir. Sebagai antisipasi, jauhkan sedikit di bawah swing low tersebut. Seiring pengalaman dan banyaknya latihan, Anda nanti akan lebih mengenal karakteristik pasar sehingga bisa memperkirakan di mana sebaiknya stop loss Anda tempatkan.

Aturan untuk sell:

1.     RSI harus berada di area overbought (di atas 70).

2.     Tunggu sampai RSI lepas dari area overbought (turun ke bawah 70).

3.     Sebagai penguat, pastikan ada candlestick bearish ketika RSI lepas dari area overbought.

4.     Tunggu sampai candlestick tersebut selesai (close).

5.     Entry (sell) pada pembukaan candelstick berikutnya.

6.     Tempatkan stop loss sedikit di atas swing high yang terakhir.

Praktek dari jurus-jurus di atas adalah sebagai berikut:

Langkah 1 – 3:

Belajar Trading Forex

Langkah 4 – 6:

Belajar Trading Forex

Dan… jebrett!

Belajar Trading Forex

Divergence dengan RSI, why not?

RSI juga bisa mengenali saat terjadi divergence. Caranya sama dengan mengenali divergence pada indikator lain semisal stochatic dan CCI.

Contoh bullish divergence dengan menggunakan RSI:

Belajar Trading Forex

Yang berikut ini adalah contoh bearish divergence dengan RSI:

Belajar Trading Forex

Baiklah, demikian pembahasan kita mengenai RSI. Berlatihlah terus menggunakan demo account, agar kepekaan Anda semakin terasah!

0 4398
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Stochastic oscillator (lebih sering disebut sebagai stochastic saja) merupakan salah satu indikator yang juga bisa membantu Anda untuk menemukan momentum yang baik untuk menentukan entry point. Indikator ini pertama kali dikembangkan oleh seorang dokter yang juga adalah trader saham dan analis teknikal yang bernama George Lane di tahun 1950-an.

Stochastic juga merupakan salah satu indikator yang populer di kalangan para trader karena mudah dimengerti dan digunakan. Di samping itu, dengan metode yang baik, indikator ini juga bisa menghasilkan profit dengan konsistensi yang cukup baik. Itulah sebabnya indikator ini masih populer hingga saat ini.

Indikator ini memiliki dua garis: yaitu garis %K dan garis %D. Demi kemudahan untuk membedakannya, biasanya keduanya diberi warna yang berbeda. Warna yang biasa digunakan adalah warna biru muda untuk %K dan warna merah untuk %D. Selain itu, %D juga biasanya ditampilkan sebagai garis putus-putus. Tentu saja warna-warna itu nantinya bisa Anda ganti sesuai selera, yang penting nanti Anda bisa membedakan mana yang %K dan mana yang %D.

Belajar Trading Forex

Komponen lain adalah area overbought dan oversold. Pada stochastic, area overbought ini berlokasi di atas level 80, sedangkan area oversold berlokasi di bawah level 20.

Di awal telah dikatakan bahwa stochastic bisa membantu Anda menemukan momen entry yang baik. Yang menjadi sinyal adalah crossover (persilangan/perpotongan) antara garis %K dan %D. Sinyal sell yang baik sering muncul ketika stochastic telah berada di area overbought. Sebaliknya, sinyal buy yang baik seringkali muncul ketika stochastic telah berada di area oversold.

Belajar Trading Forex

Stochastic biasanya bekerja dengan baik pada saat market berada dalam keadaan sideway. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati menerjemahkan sinyal buy ataupun sell dari stochastic pada saat market trending.

Kalau begitu, stochastic tak berguna ketika market trending dong?

Tidak sepenuhnya demikian, sebab masih ada cara mempergunakan stochastic meskipun market sedang trending.

Ketika market sedang trending, Anda masih bisa menggunakan stochatic sebagai referensi. Syaratnya adalah sinyal yang muncul harus searah dengan tren yang sedang berlangsung. Jadi pada saat downtrend, yang dicari adalah sinyal sell. Sebaliknya pada saat uptrend, yang Anda cari adalah sinyal buy.

Belajar Trading Forex

Belajar Trading Forex

Nah, petuah bijaknya adalah: buy-lah engkau pada saat uptrend dan sell-lah engkau pada saat downtrend.

Menemukan divergence dengan stochastic

Selain memberikan informasi overbought dan oversold, stochastic juga bisa dimanfaatkan untuk mencari bullish divergence dan bearish divergence. Caranya mirip dengan mencari pola divergence pada CCI.

Belajar Trading Forex

Di atas adalah contoh bullish divergence yang diperoleh dengan menggunakan stochastic pada grafik AUD/USD. Bullish divergence akan memperoleh konfirmasi ketika stochastic naik melampaui level 50.

Belajar Trading Forex

Di atas ini adalah contoh bearish divergence yang terlihat pada grafik AUD/USD dengan menggunakan stochastic. Konfirmasi bearish divergence adalah ketika stochastic turun melewati level 50.

Bagaimana, cukup sederhana kan? Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah memperbanyak latihan dengan mengamati stochastic.

0 4258
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Commodity Channel Index (CCI) adalah indikator teknikal yang dikembangkan oleh Donald Lambert. Awalnya indikator ini memang dikembangkan untuk menganalisis pergerakan komoditi, namun ternyata berkembang menjadi salah satu indikator yang populer dan banyak digunakan para trader untuk menganalisis pergerakan indeks saham maupun mata uang.

Kali ini kita akan membahas penggunaan CCI sebagai alat bantu dalam melakukan analisis teknikal. Diharapkan, indikator ini akan meningkatkan kemampuan Anda dalam  trading.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas memperlihatkan indikator CCI yang diplot pada grafik. CCI memiliki tiga komponen, yaitu:

  • Garis CCI
  • Area overbought (jenuh beli)
  • Area oversold (jenuh jual)

Sederhananya, ketika garis CCI mengarah ke atas, itu artinya pasar sedang dalam keadaan bullish (harga sedang naik). Sebaliknya, ketika garis CCI mengarah ke bawah artinya pasar sedang dalam keadaan bearish (harga sedang turun). Semakin curam kemiringan garis CCI menunjukkan bahwa tekanan bullish atau bearishnya semakin kuat.

Kemudian ada area overbought dan area oversold. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, overbought artinya adalah jenuh beli. Ketika CCI masuk ke area overbought maka diperkirakan harga sudah terlalu tinggi sehingga ada kemungkinan harga akan mengalami penurunan. Pada CCI, area overbought ini berada di atas level 100.

Sebaliknya, oversold artinya adalah jenuh jual. Jadi ketika CCI masuk ke area oversold maka diperkirakan harga pada saat itu sudah cukup rendah sehingga ada kemungkinan harga akan naik. Pada CCI, area oversold ini berada di bawah level -100.

Dalam contoh di atas, grafik AUD/USD terlihat bullish, namun CCI terlihat mulai bergerak turun di area overbought. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa tekanan bullish mulai berkurang. Dengan demikian, ada kemungkinan harga akan mengalami koreksi turun.

CCI juga bisa Anda manfaatkan sebagai konfirmasi sinyal buy dan sell. Caranya cukup sederhana. Sinyal sell adalah ketika garis CCI turun dari area overbought dan turun ke bawah level 100. Sebaliknya, sinyal buy adalah ketika garis CCI naik dari area oversold dan naik ke atas level -100.

Namun perlu diingat bahwa sinyal yang valid adalah sinyal yang searah dengan tren. Ini berarti sinyal sell biasanya valid jika muncul pada saat downtrend dan sinyal buy biasanya valid jika muncul pada saat uptrend. Memang kadang kala sinyal yang berlawanan dengan arah tren juga bisa dimanfaatkan, akan tetapi hasilnya biasanya tidak semaksimal sinyal yang searah dengan tren.

Belajar Trading Forex

Belajar Trading Forex

Jadi, tetap saja Anda harus mencermati dulu tren yang tengah berlangsung di pasar. Yang pertama kali harus Anda amati adalah price action-nya dulu (yang terlihat dari grafik), baru kemudian indikatornya. Ingatlah selalu bahwa indikator hanya bersifat membantu Anda untuk menemukan momen yang tepat.

Menemukan divergence

Selain memberikan informasi oversold dan overbought, CCI juga bisa Anda pergunakan untuk menemukan divergence. Divergence biasanya diikuti oleh koreksi harga.

Ada dua jenis divergence, yaitu bearish divergence dan bullish divergence.

Bearish divergence terjadi pada saat uptrend. Ketika bearish divergence ini terkonfirmasi maka cenderung akan terjadi koreksi turun.

Belajar Trading Forex

Konfirmasi bearish divergence yang paling mudah adalah ketika garis CCI turun melewati garis level 0.00. Pola atau formasi candlestick juga bisa dipergunakan sebagai konfirmasi (akan dipelajari pada level yang lebih lanjut). Namun perlu diingat bahwa bearish divergence biasanya cenderung hanya akan diikuti oleh koreksi turun saja, sehingga target pergerakannya pun tidak akan jauh. Dalam hal ini, trend line atau support terdekat bisa Anda pergunakan sebagai target pergerakan terjauhnya.

Belajar Trading Forex

Konfirmasi bullish divergence adalah ketika garis CCI naik dan melewati garis level 0.00. Seperti halnya bearish divergence, bullish divergence pun biasanya hanya diikuti oleh koreksi naik (meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada pergerakan yang lebih panjang). Oleh sebab itu, bijaksanalah dalam memanfaatkan divergence sebagai sinyal entry.

 

0 5087
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Bollinger Bands (selanjutnya akan kita sebut sebagai BB) merupakan salah satu indikator yang juga populer di kalangan para trader. Indikator ini dinamakan sesuai dengan nama penciptanya, yaitu John Bollinger.

Bollinger Bands bisa membantu Anda untuk mengukur volatilitas pasar dan memperkirakan range (rentang) pergerakan harga. Indikator ini terdiri atas tiga garis yang bergerak mengikuti pergerakan harga. Ketiga garis yang dimaksud adalah upper bandmiddle band dan lower band.

Belajar Trading Forex

Middle band sendiri sebenarnya adalah moving average, yang merupakan dasar bagi perhitungan upper band dan lower band. Biasanya yang digunakan adalah simple moving average. Jarak antara upper band dan lower band juga middle band dipengaruhi oleh volatilitas yang terjadi. Semakin besar volatilitas maka jarak antar band akan semakin lebar dan sebaliknya.

Dengan demikian, BB membantu Anda untuk mengenali apakah pasar sedang “ramai” atau justru sedang “sepi”. Ketika BB melebar, artinya pasar sedang “ramai”, sedangkan ketika BB menyempit dan cenderung bergerak datar, artinya pasar sedang “sepi”.

Belajar Trading Forex

Kita tidak akan membahas perhitungan BB yang malibatkan perhitungan matematika tingkat tinggi. Kita hanya akan membahas penggunaan BB secara praktis sehingga bisa Anda manfaatkan untuk membaca peluang dari pergerakan harga.

Penerapan Strategi Bounce Trading

Strategi bounce trading bisa Anda terapkan pada BB. Anda akan memanfaatkan upper band dan lower band sebagai resistance dan support dinamis (upper band sebagai resistance dinamis, lower band sebagai support dinamis). Middle band juga nanti akan Anda libatkan, terutama sebagai target.

Harga cenderung memantul kembali ke middle band setelah mencapai upper band atau lower band. Gejala inilah yang Anda gunakan untuk mencari entry point. Strateginya, Anda mencari level buy di area lower band atau mencari level sell di area upper band. Targetnya tentu saja adalah area middle band.

Belajar Trading Forex

Ketika harga sampai di upper band, sulit bagi kita untuk memastikan apakah harga akan berhenti di situ atau justru akan tembus ke atas upper band tersebut. Padahal area ini adalah area yang bagus untuk sell. Nah, tipsnya adalah  tunggu konfirmasi pantulan berupa candlestick atau bar chart yang ditutup di bawah upper band tersebut. Kalau Anda sudah menemukan konfirmasinya, Anda bisa sell. Targetnya di middle band.

Begitu pula caranya untuk menentukan apakah saatnya sudah tepat untuk buy ketika harga telah sampai di lower band.

Stop loss-nya di mana? Mudah saja. Cari saja support atau resistance terdekat.

Strategi bounce trading dengan BB efektif digunakan pada saat pasar sedang dalam keaadaan sideway dan menggunakan time frame yang panjang, misalnya grafik 4 jam-an atau grafik harian. Namun tidak menutup kemungkinan bisa juga dipakai pada saat trending meskipun harus penuh dengan kehati-hatian.

Belajar Trading Forex

Catatan: tidak dianjurkan menggunakan strategi BB bounce trading dalam keadaan trending meskipun memungkinkan!

Penerapan Strategi Breakout Trading

Dengan menggunakan BB, Anda juga bisa mengenali peluang breakout. Kita telah bahas sebelumnya bahwa BB cenderung akan menyempit bila pasar sedang “tenang”. Filosofinya (wow) adalah pada saat itu para pelaku pasar sebenarnya tidak yakin akan dibawa ke mana. Pada saat itu, penjual dan pembeli (supply dan demand) sama kuat, sehingga harga bergerak dalam range yang relatif sempit. Karena harga bergerak dalam range sempit, bollinger band juga menyempit.

Breakout yang terjadi biasanya diikuti oleh BB yang secara cepat melebar dan harga menembus upper band atau lower band. Kondisi itulah yang menjadi sinyal bagi Anda untuk melakukan aksi. Jika upper band yang ditembus, maka strateginya adalah buy. Sebaliknya, jika lower band yang ditembus, maka strateginya adalah sell.

Belajar Trading Forex

Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, baik strategi bounce maupun breakout memiliki kekurangan dan kelebihan. Demikian juga dengan penerapan strategi bounce dan breakout pada BB.

Dengan menerapkan stretegi breakout, Anda dimungkinkan untuk segera “menangkap” peluang yang muncul seteleh breakout. Namun ada kalanya yang terjadi justru false breakout, yang Anda sudah paham apa resikonya.

Untuk mengantisipasi false breakout, strategi breakout menggunakan BB biasanya diterapkan pada time frame yang lebih kecil, misalnya grafik 1 jam-an atau lebih kecil (15 menitan atau 30 menitan).

0 6049
Belajar Trading Forex

Belajar Forex : Mulai dari artikel ini Anda akan mempelajari indikator teknikal. Sebelum kita mulai, perlu diketahui bahwa indikator teknikal bukanlah alat yang bisa menjadikan Anda seperti cenayang. Indikator teknikal hanya membantu Anda untuk mengenali potensi pergerakan harga.

Pertama kali Anda akan membahas indikator teknikal yang bernama Moving Average. Moving average (selanjutnya akan kita sebut sebagai MA) merupakan salah satu indikator tren yang cukup populer. Indikator ini “memperhalus” pergerakan harga dalam rentang waktu tertentu, sehingga Anda dipermudah untuk mengenali tren atau arah pergerakan harga secara umum. Mari kita lihat gambar berikut ini.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas adalah grafik 1 jam-an GBP/USD. Garis berwarna merah yang ditambahkan pada grafik tersebut adalah salah satu contoh indikator moving average yang memiliki periode 50 (MA 50). Artinya, indikator tersebut mengambil data harga dari 50 candlestick terakhir, lalu menggambarkannya sebagai garis yang Anda lihat itu. Standar harga yang digunakan biasanya adalah harga penutupan (close), namun ada beberapa metode yang menggunakan harga open, high, atau low. Namun kita tidak akan membahas hal tersebut kali ini.

Kembali ke gambar di atas, Anda bisa melihat bahwa MA bisa memperlihatkan kepada Anda tren yang sedang berlangsung. Jika harga pada umumnya berada di bawah MA, maka tren saat itu adalah downtrend.

Sebaliknya, jika harga secara umum bergerak di atas MA, maka tren saat itu adalah uptrend. Dari contoh di atas terlihat bahwa trend untuk GBP/USD pada grafik 1 jam-an (hourly) adalah turun (downtrend). Semakin curam kemiringan MA tersebut, maka itu artinya tren yang terjadi semakin kuat. Dengan demikian, Anda bisa lebih mudah memperkirakan potensi arah pergerakan selanjutnya.

MA juga bisa berfungsi sebagai support dan resistance. Istilahnya adalah support dan resistance dinamis (dynamic support and resistance).  Dinamakan demikian karena ia bergerak sesuai dengan pergerakan harga.

Pada saat uptrend, MA berfungsi sebagai support. Sebaliknya pada saat downtrend, MA berfungsi sebagai resistance.

Oke, mungkin Anda sudah tidak sabar ingin segera mencicipi resep trading menggunakan MA ini. Sabar… bahkan Utut Adianto juga belajar dasar-dasar catur dulu kok sebelum menjadi Grand Master.

Baiklah, kita akan segera melangkah lebih jauh lagi.

Dalam pembelajaran mengenai MA ini, Anda hanya akan membahas dua jenis MA yang populer saja, yaitu:

1.  Simple Moving Average (SMA)

2.  Exponential Moving Average ( EMA)

Anda akan mempelajari dasar-dasarnya dulu, baru nanti Anda akan pelajari strateginya. Oke, ini dia….

Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average (SMA) ini merupakan MA yang paling sederhana. Ya, sesuai dengan namanya: simple. Tapi jangan remehkan kemampuan si SMA yang sederhana ini, karena dengan penggunaan yang tepat ia pun bisa menuntun Anda untuk mengenali pergerakan harga.

Jika Anda menggunakan SMA 50 di grafik 1 jam-an, maka SMA 50 yang Anda lihat adalah hasil dari penjumlahan 50 harga penutupan terakhir, lalu hasil penjumlahan itu dibagi lagi dengan 50. Dari perhitungan itulah Anda bisa memperoleh nilai rata-rata dari harga penutupan dalam 50 jam terakhir.

Sudah dapat gambarannya kan? Oke, kita lanjutkan.

Seperti yang pernah disampaikan, pada prakteknya Anda tidak perlu susah-susah lagi menghitung SMA ini, platform trading yang Anda gunakan sudah menyediakan alatnya. Lho, lalu mengapa repot-repot mempelajari perhitungannya? Tujuannya hanya agar Anda memiliki gambaran mengenai apa sebenarnya SMA ini. Juga agar Anda memiliki dasar jika nanti Anda ingin memodifikasi SMA ini sesuai dengan strategi  Anda nantinya.

Seperti yang telah disampaikan di awal tadi: MA “memperhalus” pergerakan harga. Semakin besar periode yang digunakan maka semakin “halus” pula MA yang dihasilkan. Semakin halus MA yang dihasilkan maka akan semakin lambai ia bereaksi terhadap pergerakan harga.

Mari kita lihat perbandingan antara SMA 20 dengan SMA 50 berikut ini.

Belajar Trading Forex

Nah, kelihatan kan? SMA 20 yang berwarna biru memiliki liukan-liukan yang lebih agresif dibandingkan dengan SMA 50 yang berwarna merah. Ini menunjukkan bahwa SMA 20 yang memiliki periode lebih pendek lebih cepat bereaksi terhadap pergerakan harga, sedangkan SMA 50 cenderung lebih lambat daripada SMA 20. SMA 50 terlihat lebih “kalem”, tidak se-“liar” SMA 20.

Dengan mengamati kedua SMA di atas Anda bisa melihat bahwa pasar tengah dalam keadaan trending. Kedua SMA yang Anda lihat pada grafik di atas menggambarkan arah tren secara umum, yaitu downtrend.

Pada topik yang lebih lanjut Anda akan mempelajari strategi penggunaan SMA ini, kelemahannya serta cara mengantisipasi kelemahan SMA tersebut.

Exponential Moving Average (EMA)

Perhitungan EMA tidaklah sesederhana SMA. EMA memberikan bobot yang lebih dalam perhitungan harga rata-rata dalam rentang waktu tertentu. Efeknya adalah EMA cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan harga, sehingga EMA bergerak sedikit lebih agresif daripada SMA.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas memperlihatkan SMA dan EMA yang diplot pada grafik yang sama. Periode yang digunakan juga sama-sama 50 namun metode perhitungannya berbeda. MA yang berwarna biru adalah EMA, sedangkan MA yang berwarna merah adalah SMA. Anda bisa melihat bahwa EMA 50 selalu lebih dekat kepada SMA 50. Ini artinya EMA lebih merepresentasikan pergerakan harga (price action) daripada SMA. Dengan kata lain, EMA lebih menggambarkan apa yang terjadi di pasar saat ini.

SMA atau EMA?

Mungkin sekarang Anda akan berteriak, “Jadi yang mana yang harus saya pakai? SMA atau EMA?” Hehe… jangan bingung ya. EMA maupun SMA memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kita bahas satu per satu.

Kalau Anda adalah trader yang agresif dan ingin menggunakan MA yang bereaksi cepat terhadap pergerakan harga, maka EMA merupakan pilihan yang tepat. EMA bisa membantu Anda menangkap peluang lebih cepat dibandingkan SMA. Dengan demikian profit yang bisa Anda dapatkan tentunya akan lebih besar pula. Namun kekurangannya adalah Anda bisa saja terjebak oleh fake signal (sinyal palsu) yang diberikan oleh EMA.

Nah, SMA sendiri adalah kebalikan dari EMA. SMA bereaksi lebih lamban pada pergerakan harga daripada EMA. Dengan demikian, peluang yang diberikan pun akan lebih lambat muncul. Artinya, profit yang dihasilkan pun akan lebih kecil. Namun kemungkinan terjebak oleh fake signal lebih kecil.

Jadi pilih yang mana? Terserah Anda. Ya, benar-benar terserah Anda. Anda sudah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing MA. Pilih yang sesuai dengan karakter Anda.

Penggunaan Moving Average

Ingat selalu kalimat ini:

“JIKA HARGA SECARA UMUM BERGERAK DI ATAS MA, MAKA TREN YANG BERLANGSUNG ADALAH UPTREND. SEBALIKNYA JIKA HARGA SECARA UMUM BERGERAK DI BAWAH MA, MAKA TREN YANG BERLANGSUNG ADALAH DOWNTREND.”

Mudah kan? Inilah prinsip dasar penggunaan MA. Dengan demikian, berhati-hatilah jika harga bergerak menembus MA (terjadi breakout), karena hal tersebut merupakan indikasi awal (bukan kepastian) bahwa tren akan berubah arah.

Ingat juga bahwa pada saat uptrend strategi yang terbaik adalah Buy. Sebaliknya, pada saat downtrend strategi yang terbaik adalah Sell.

Pada saat uptrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk buy. Sebaliknya, pada saat downtrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk melakukan sell. Strategi yang biasanya diterapkan adalah bounce trading.

Mari kita cermati gambar berikut ini:

Belajar Trading Forex

Dalam gambar di atas terlihat indikator SMA 50 yang diplot pada grafik 1 jam-an. Terlihat bahwa harga terkoreksi dan mendekati SMA 50 dan memantul. Dengan demikian Anda memperoleh konfirmasi bahwa terjadi pantulan. Perlu diingat bahwa jika Anda akan melakukan buy menggunakan MA, maka pastikan bahwa garis MA sedang menanjak (naik).

Pada strategi sell, yang dilakukan sebenarnya hanya kebalikan dari strategi buy. Ketika harga mengalami pullback ke area MA, yang Anda lakukan adalah menunggu konfirmasi bounce untuk melakukan sell. Perhatikan gambar di bawah ini.

Belajar Trading Forex

Contoh di atas juga mempergunakan SMA 50. Yang pertama kali harus Anda perhatikan adalah apakah garis SMA tersebut sedang turun. Ketika harga mengalami pullback ke area SMA, pastikan bahwa kemiringannya SMA tetap ke bawah (turun). Dalam gambar di atas, kita melihat bahwa harga persis menyentuh garis SMA. Memang ada false break, namun segera harga bergerak turun dan bergerak di bawah SMA. Keadaan ini menggambarkan bahwa tekanan bearish lebih besar daripada bullish. Pada saat ini Anda boleh langsung mengambil posisi sell dengan target di support terdekat dan stop loss di resistance terdekat.

Ya… ya… sederhana memang, tapi ingat: tidak selamanya skenarionya seperti ini. Terkadang bounce yang terjadi gagal dan harga malah berbalik dan menembus MA dengan sadisnya. Itulah sebabnya Anda perlu menempatkan stop loss. Nantinya, dengan strategi ditambah manajemen resiko yang baik (akan dipelajari nanti pada level yang lebih tinggi), strategi yang sederhana pun bisa menghasilkan profit yang konsisten.

Nah, ada pengembangan dari penggunaan MA sebagai entry point. Salah satu pengembangan yang populer adalah mengkombinasikan dua buah MA di dalam satu grafik. Kombinasi yang cukup populer adalah kombinasi SMA 20 dan SMA 50. Strategi ini kita sebut sebagai “double MA”.

Belajar Trading Forex

Idenya adalah memanfaatkan celah yang merupakan area di antara dua MA (apakah nanti Anda akan menggunakan SMA ataupun EMA, sama saja. Hanya saja dalam contoh ini kami menggunakan SMA). Dari gambar di atas Anda bisa melihat bahwa sell dilakukan ketika harga masuk ke dalam area yang dimaksud.

Kalau Anda akan melakukan transaksi dengan strategi double MA maka minimal dua kondisi berikut harus terpenuhi:

  1. Kedua MA harus memiliki arah kemiringan yang sama. Jika akan BUY, maka kemiringan kedua MA harus ke atas (naik). Sebaliknya, jika akan SELL, maka kemiringan kedua MA harus ke bawah (turun).
  2. Harga sudah berada di dalam celah yang merupakan area di antara dua MA.

Oke, Anda sudah tahu bahwa celah MA tersebut bisa Anda manfaatkan untuk entry. Pertanyaannya kemudian adalah: kapan persisnya Anda bisa buy atau sell?

Untuk sementara, Anda gunakan saja dulu area tersebut. Jadi ketika harga masuk dan candlestick ditutup di area tersebut, maka pada saat itulah Anda melakukan transaksi. Nantinya, akan ada alat bantu tambahan yang bisa membantu Anda untuk menentukan timing kapan harus melakukan aksi. Itu akan dipelajari di tingkat yang lebih lanjut. Stay tune!

Double MA Crossover

Perpotongan antara dua MA bisa Anda jadikan sinyal atau indikasi awal bahwa tren akan berubah arah. Hal tersebut juga bisa Anda pergunakan sebagai sinyal untuk entry.

Belajar Trading Forex

Gambar di atas memperlihatkan SMA yang diplot di grafik 1 jam-an. Sell dilakukan ketika kedua SMA itu berpotongan dari atas kebawah dan buy dilakukan ketika terjadi perpotongan dari bawah ke atas merupakan sinyalnya.

Perpotongan dua MA tersebut juga bisa Anda manfaatkan sebagai exit point jika Anda seandainya telah melakukan Buy berdasarkan strategi double MA sebelumnya. Jadi, selain sebagai entry point, perpotongan dua MA juga bisa digunakan sebagai exit point.

0 51385
Belajar Trading Forex

Hikayat Fibonacci

Untuk belajar memahami Fibonacci Retracement untuk analisa forex, ada baiknya Anda mengenal hikayat fibonacci terlebih dahulu. Rasio Fibonacci cukup populer di kalangan para teknikalis. Angka-angka yang dihasilkan dari perhitungan rasio ini cukup membantu kita dalam menentukan level entry dan exit.

Rasio Fibonacci pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli matematika abad pertengahan asal Italia. Namanya Leonardo Fibonacci yang berasal dari kota Pisa. Ia memperkenalkan deret angka yang rasionya terdapat dalam proporsi bentuk-bentuk di alam. Deret angka tersebut juga ia libatkan dalam perhitungan perkembangbiakan kelinci dalam situasi yang ideal. Di kemudian hari, deret ini dikenal dengan deret Fibonacci atau angka Fibonacci.

Deret tersebut adalah: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,… dan seterusnya.

Trivia quiz untuk Anda: berapakah yang muncul setelah 89? Kalau Anda menjawab dengan benar tanpa bertanya pada om Google atau tante Wiki, maka sepertinya Anda memiliki potensi yang besar untuk menjadi teknikalis handal.

Dari deret tersebutlah ditemukan ada rasio yang paling ditemui di setiap bentuk benda di alam ini, yaitu kira-kira 1 : 1.618 atau 0.618 : 1. Rasio ini yang kemudian disebut sebagai “golden ratio”.

Itulah sedikit hikayat Fibonacci. Oke, Anda akan segera keluar dari segala kerumitan matematika ini… (Akhirnya!)

Penerapan Dalam Trading: Fibonacci Retracement

Tenang, Anda sama sekali tidak perlu menghitung rasio Fibonacci dalam praktek trading. Platform trading yang kita pakai (Metatrader) telah menyediakan tool yang sangat membantu kita untuk mengaplikasikan ilmu warisan Fibonacci ini secara instan. Nama tool tersebut adalah Fibonacci Retracement.

Para trader menggunakan level-level yang diberikan oleh Fibonacci Retracement untuk membantu menentukan kisaran area yang potensial sebagai support dan resistance. Tool ini bisa dimanfaatkan dengan baik pada saat pasar sedang dalam keadaan “trending”, baik itu saat up trend maupun down trend. Konsep dasar penggunaan Fibonacci retracement adalah mencari peluang buy ketika harga berada di kisaran support. Sebaliknya, Anda bisa mencari peluang sell ketika harga berada di kisaran resistance yang diperoleh dari Fibonacci retracement.

Untuk bisa menemukan level-level retracement, Anda harus terlabih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan. Titik-titik tersebut kita sebut sebagai “swing high” dan “swing low”.

Pada pergerakan di saat up trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing low ke swing high seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Belajar Trading Forex

Sebaliknya, pada pergerakan di saat down trend, yang Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing high ke swing low seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini.

Belajar Trading Forex

Terlihat dalam kedua gambar di atas bahwa level-level Fibonacci yang kita gunakan dalam trading adalah level 0.0%, 23.6%, 38.2%, 50.0%, 61.8%, 76.4% dan 100.0%. Level-level itulah yang kita jadikan sebagai acuan atau referensi untuk menentukan area support dan resistance.

Dengan menggunakan Fibonacci retracement ini, Anda juga dapat mengambil beberapa level untuk Anda jadikan area referensi yang akan berguna untuk menentukan level entry. Level-level yang populer adalah 38.2%, 50.0% dan 61.8%. Di kisaran level-level tersebut seringkali muncul sinyal buy atau sell yang akurasinya cukup tinggi.

Level-level Fibonacci retracement sebenarnya adalah level-level support dan resistance. Jadi, area referensi untuk mencari sinyal sell sebenarnya adalah area resistance. Dengan demikian, area referensi untuk mencari sinyal buy sebenarnya adalah area support.

Strategi forex ini mirip dengan bounce trading, atau lebih tepatnya: swing trading. Anda menunggu pullback hingga ke area referensi dan mencari apakah ada konfirmasi sinyal buy atau sell. Namun karena Anda belum mempelajari sinyal buy maupun sell, untuk sementara Anda menggunakan Fibonacci retracement saja dulu. Ketika pergerakan harga tertahan di area referensi tersebut, maka Anda bisa mencoba untuk melakukan sell atau buy.

Sekarang, mari kita lihat aplikasinya pada grafik pergerakan harga.

Strategi Buy

Seperti yang sudah dijelaskan, Anda bisa memanfaatkan area referensi Fibonacci untuk mencari level buy. Tentu saja hal ini Anda lakukan pada saat up trend. Di bawah ini ada contoh grafik berdasarkan pergerakan GBP/USD. Anda akan mempelajari praktek strategi buy dengan menggunakan area referensi berdasarkan Fibonacci retracement. Anda siap? Sebaiknya  demikian.

Belajar Trading Forex

Dalam contoh di atas Anda telah menggambar Fibonacci retracement dengan acuan swing low di 1.6271 (100.0%) dan swing high di 1.6592 (0.0%). Area referensi di mana Anda akan mencoba mencari konfirmasi pantulan yang merupakan sinyal buy bagi Anda, ada tiga level retracement, yaitu: 1.6469 (38.2%), 1.6431 (50.0%) dan 1.6394 (61.8%). Ketiga level ini merupakan support.

Anda menunggu sampai harga masuk ke area referensi itu. Level terbaik untuk Buy adalah di sekitar 61.8%, namun ada kalanya Anda juga mendapatkan konfirmasi pantulan di sekitar 50.0%.

Nah, sekarang Anda bisa melihat bahwa harga berkali-kali mencoba menembus level 1.6394 (61.8%). Terlihat level tersebut “diuji” hingga empat kali, namun selalu candlestick ditutup di atas 1.6394. Ini merupakan pertanda bahwa support itu kuat dan inilah saatnya Anda melakukan buy, di sekitar 1.6431. Targetnya adalah level 1.6592 (0.0%), sementara antisipasinya berada di exit point (1) yaitu 1.6347 atau exit poit (2) di 1.6271. Jadi kalau harga ternyata malah turun, Anda akan lepas posisi buy Anda di salah satu dari kedua level tersebut.

Mengapa harus ada exit point? Untuk antisipasi jika ternyata pasar berkehendak lain, yang berlawanan dengan perkiraan Anda. Ingat selalu bahwa tidak ada analisis teknikal yang 100% benar. Analisis teknikal hanya membantu Anda untuk mendekati kebenaran. Lho, terus bagaimana dong? Nanti, di level kelas yang lebih tinggi, Anda juga akan mempelajari mengenai manajemen resiko dan manajemen modal, yang kalau dipadukan dengan pengetahuan analisis teknikal yang baik akan menjdi senjata ampuh dalam trading. Semangat!

Mengapa ada dua exit point? Karena seringkali tembusnya level 76.4% merupakan indikasi awal bahwa arah tren akan berubah, sehingga banyak trader yang memilih untuk “bermain aman” dengan melepas posisi mereka setelah level tersebut tembus (break). Namun konfirmasi perubahan arah tren (reversal) sebenarnya adalah level 100.0%, sehingga para trader yang lebih “berani” memilih tembusnya level tersebut sebagai exit point mereka. Jadi, ini lebih kepada style dan mungkin kekuatan modal.

Oke kita lihat sekarang apa yang terjadi pada GBP/USD setelah Anda melakukan buy.

Ternyata GBP/USD naik dan target Anda tercapai! Indah bukan?

Strategi Sell

Strategi ini sebenarnya hanya merupakan kebalikan dari strategi buy. Kalau strategi buy dilakukan pada saat up trend, maka strategi sell ini dilaksakanan pada saat down trend.

Di bawah ini adalah grafik pergerakan GBP/USD.

Belajar Trading Forex

Pada saat ini Anda menunggu terjadi pullback ke area referensi sell yang berada di kisaran antara 1.6619 (38.2%) hingga 1.6718 (61.8%). Di tengah-tengah ada level 50.0% yang berada di level 1.6668. Ingat ya, ketiga level ini adalah level resistance dan area referensi Anda itu sebenarnya adalah area resistance.

Nah, sekarang pullback telah terjadi dan Anda bisa melihat bahwa harga telah berada di dalam area referensi. Perhatikan bahwa harga tidak mampu menembus ke atas level 1.6718 (61.8%), bahkan malah turun dan tembus ke bawah 1.6668 (50.0%). Inilah sinyal bahwa Anda boleh melakukan sell dengan target di level 1.6458 (0.0%). Jangan lupa, antisipasinya adalah di exit point (1) di 1.6780 atau (2) di 1.6879, seandainya ternyata perkiraan Anda salah.

Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya….

Pergerakan harga GBP/USD turun dan target anda tercapai..

Yap, hari yang indah….

Meskipun demikian, tidak berarti kita hanya boleh melakukan sell atau buy di level 61.8% saja. Terkadang, di level 76.4% pun kita masih bisa melakukan buy atau sell.

Belajar Trading Forex

Yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai level 76.4% tembus. Level ini sering disebut sebagai level “kritis”. Jika level ini tembus, maka kecenderungannya akan terjadi reversal (pembalikan arah), bukan lagi koreksi. Pada gambar di atas, meskipun upper shadow dari candlestick sudah menembus level 76.4%, namun ternyata harga penutupannya masih di bawah level 76.4%, sehingga level ini belum bisa dianggap tembus .

Memang aplikasi Fibonacci retracement ini terlihat mudah. Nah, sekarang yang perlu juga untuk diketahui bahwa sebenarnya tidak semudah itu. Kebanyakan kesalahan terjadi ketika menentukan swing high dan swing low. Maka dari itu, diperlukan pengamatan yang jeli dan latihan untuk mengasah ketajaman Anda mengenali swing high dan swing low. Juga, kesabaran untuk menanti konfirmasi di area referensi mutlak diperlukan untuk bisa mempraktekkan teori ini dengan baik.

Jangan lupa… Untuk belajar mempraktekkan teori forex ini, sebaiknya menggunakan demo account terlebih dahulu.

0 4822
belajar forex

Oke, di level Forex Dasar Anda telah mempelajari dasar-dasar analisis teknikal mulai dari support, resistance dan juga trendline. Channel sendiri adalah pengembangan dari trendline. Sekarang, kita akan mempelajari strategi meraih peluang pasar berdasarkan dasar-dasar analisis teknikal tersebut.

Sebelum kita lanjutkan, ingatlah bahwa pada dasarnya trendline dan channel juga adalah support dan resistance. Pada saat down trend, trendline berfungsi sebagai resistance. Sebaliknya, pada saat uptrend, trendline berfungsi sebagai support.

Pada dasarnya ada dua strategi yang bisa kita terapkan berdasarkan support dan resistance. Yang pertama disebut “bounce trading”, yang kedua disebut “breakout trading”.

Bounce trading

Ada juga yang menyebutnya sebagai “swing trading”. Metode trading ini memanfaatkan “pantulan” harga ketika harga sudah mencapai support atau resistance dan memantul dari sana. Ilustrasi di bawah ini akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan bounce trading ini.

belajar+trading+forex

Intinya Anda menunggu ada pantulan dari area support atau resistance untuk melakukan trading. Mengapa tidak melakukan sell tepat pada resistance atau buy tepat pada support? Karena Anda memerlukan semacam konfirmasi bahwa support atau resistance tersebut belum tembus. Bisa jadi pergerakan harga naik atau turun begitu tajam dan cepat hingga langsung menembus support atau resistance. Nah, pantulan inilah yang menjadi semacam pertanda bahwa level support atau resistance itu masih kuat.

Breakout trading

Dalam dunia trading, support dan resistance tidak akan selamanya bertahan. Pada suatu saat level-level tersebut pasti akan tembus. Pada saat seperti itu Anda masih bisa mencoba mencari peluang dengan strategi yang dinamakan breakout trading. Strategi breakout trading ini seratus persen berbeda dengan bounce trading. Jika pada bounce trading Anda menunggu pantulan untuk buy atau sell, pada strategi breakout Anda malah memanfaatkan tembusnya support dan resistance dengan asumsi bahwa tembusnya support atau resistance cenderung diikuti oleh rally.

Ilustrasi di bawah ini menggambarkan strategi breakout trading dengan memanfaatkan tembusnya support atau resistance.

belajar+trading+forex

Strategi yang digambarkan di atas merupakan strategi agresif, di mana transaksi langsung dilakukan setelah mendapatkan konfirmasi tembusnya level support atau resistance. Yap, lagi-lagi konfirmasi dibutuhkan untuk melakukan aksi.

Suatu support atau resistance dianggap tembus jika memenuhi paling tidak salah satu dari dua hal berikut:

  1. Jika Anda menggunakan candlestick chart, maka body dari candlestick tersebut harus memotong/menembus garis support atau resistance.
  2. Pada saat terjadi breakout, terjadi peningkatan volume. Semakin signifikan peningkatannya, maka breakout dianggap semakin valid. Mengenai volume ini, akan kita bahas nanti.

belajar+trading+forex

Nah, itu tadi adalah strategi breakout trading yang agresif. Tapi ada trader yang memilih untuk menunggu konfirmasi selanjutnya. Konfirmasi lagi… konfirmasi lagi… mungkin itu yang Anda pikirkan sekarang. Terbiasalah dengan itu, karena Anda akan banyak mengulang kata tersebut sepanjang perjalanan Anda menempuh rimba trading yang penuh tantangan ini.

Golongan trader yang tidak agresif ini menerapkan strategi breakout yang agak konservatif. Supaya lebih gampang, kita sebut saja strategi breakout konservatif. Bagaimana sih strategi konservatif ini?

Strategi breakout konservatif ini sebenarnya memadukan strategi breakout dan bounce trading. Begini ceritanya.…

Ketika breakout sudah terkonfirmasi, Anda tidak langsung mengambil posisi buy atau sell seperti strategi breakout agresif, melainkan Anda menunggu terjadi “pullback” kembali ke area support atau resistance. Setelah terjadi pullback, Anda menunggu lagi terjadi pantulan dari level support atau resistance tersebut. Barulah kemudian Anda melakukan transaksi buy atau sell.

Rumit ya? Sebenarnya tidak sih. Supaya lebih mudah memahaminya, kami sudah menyiapkan ilustrasi untuk menggambarkan strategi ini.

belajar+trading+forex

Baik strategi breakout agresif maupun konservatif memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Jika Anda menggunakan strategi breakout yang agresif, keuntungan yang Anda peroleh adalah Anda bisa segera entry dan tidak akan ketinggalan “momen”. Tapi tentu saja strategi ini memiliki kelemahan. Misalnya Anda telah melakukan sell segera ketika support tembus, namun ternyata harga naik lagi dan kembali berada di atas support tadi.

Nah, strategi konservatif memiliki keunggulan dalam hal itu. Dengan menggunakan strategi ini, kemungkinan Anda untuk terjebak adalah lebih kecil karena Anda menunggu pullback dulu dan mencari konfirmasi pantulan. Namun perlu diketahui juga bahwa PULLBACK TIDAK SELALU TERJADI setelah terjadi breakout. Di sinilah kelemahan strategi konservatif, yaitu Anda akan berpotensi kehilangan kesempatan untuk entry karena harganya sudah telanjur lari.

Setiap trader punya gaya yang berbeda-beda. Anda bisa memutuskan apakah Anda akan menjadi si Agresif atau sang Konservatif. Bagi Anda yang penyabar, strategi konservatif mungkin cocok untuk Anda terapkan. Namun jika Anda adalah pribadi yang gesit dan menyukai tantangan, mungkin lebih cocok menggunakan strategi agresif. Silakan pilih sesuai dengan kepribadian Anda.